"Selamat ulang tahun Ra. Hope you all the best. Semoga apa yang kamu cita-citakan terwujud.
Andai saja aku masih sabar menunggu.."Sebuah kiriman "wall" di akun facebook ku. Mataku terkejut menatapnya.
"Dia??" Kataku. Aku kembali menyeruput capucino yang ada di hadapanku. Tak memalingkan wajah sedikitpun. Aku masih belum percaya dengan apa yang aku lihat. Dia sempat melakukan ini. Aku pikir..
Aku kembali memandang sebuah nama di akun facebook ku itu. Aku membuka nama itu dan melihat-lihat beebrapa foto. Hanya sekedar ingin tahu bagaimana kabarnya selama ini. "ahh Dia" batinku. Rasa kangen kembali menyusup dalam dadaku. Uuh..rasanya ingin kembali ada dalam rengkuhannya. Minimal ada dihadapannya memandang senyumnya menikmati tiap jengkal wajahnya ketika tertawa..seperti saat itu.
"haha..kamu itu ada aja ya. berani juga kamu kayak gitu. Hebat. Itu baru ade ku.." Sambil tergelak dan seperti biasa merangkul ku dan mengacak-ngacak rambutku. Saat itu aku habis menceritakan tentang perkelahianku dengan seorang teman di kelas yang memang hobi mengganggu yang lain. saat itu rasanya sudah ga tahan melihat ulahnya. dan menantangnya bertengkar. Mana ada cowok yang mau bertengkar dengan perempuan. huuh. itu seharusnya. Tapi begitu lah. terjadi pertengkaran itu. sejak saat itu kredibilitas sang jagoan diragukan. sejak melawan perempuan. Dan sejak saat itu perilakunya berubah.
Ahh ingatanku masih segar. Masih terbayang jelas semua yang pernah aku dan Dia lalui. Semuanya indah. Bahkan saat dia marah besar."aku ga suka kamu kayak gitu hargai diri kamu de. Ga bagus banget kayak gini. "katamu. Aku ingat sekali saat itu naluri remajaku bergejolak. Aku ingin sebuah pengakuan.. Sekedar pengakuan darinya bahwa aku ya bisa dikatakanlah. Aku cantik. Aku ingin ia mengatakan itu dihadapanku. Seperti teman-teman laki-laki ku di sekolah. Saat itu amarahnya pecah aku hanya menundukkan kepala. Ia sibuk melepaskan jaketnya lalu memasangkannya padaku "ini pakai!" Nadanya memerintah. Wajahnya masih tak berani aku pandang. Aku hanya menuruti kemauannya. Mengulurkan tanganku agar ia mudah memasangkan jaketnya. "kamu sudah sangat cantik walaupun dengan penampilanmu yang sederhana. Dan aku suka itu. Tidak dengan penampilan serba terbuka seperti ini. Cantik itu ga hanya dengan penampilan yang sexy. Tapi cantik itu adalah ketika kamu bisa menjadi dirimu sendiri dan hati yang cantik" kata mu panjang lebar sambil mengantarkan aku pulang.
Aku hanya tersenyum simpul. Mengingat semua sekuel kebersamaan aku dan Dia. Aku tak mampu menahan diriku lagi untuk mulai mendownload beberapa foto miliknya. Fotonya yang seorang diri! Kemudian memandang foto-foto itu di layar laptop ku. Lagi-lagi aku menggeleng dan tersenyum. Tak banyak berubah dari dia. Masih sama seperti dulu. Khayalanku berkelana kemana-mana. Andai saja saat itu..
"maukah kamu menjadi bagian hiduplu?" Pintamu Andai saja saat itu…"yes i do.". Andai itu jawabanku. Mengapa aku menyiakan kesempatan itu. Bersanding dalam hidupnya. Demi sebuah ego. Demi sebuah cita-cita. Mengapa juga pada saat itu aku harus mengatakan "aku mau. Tapi bukan sekarang.. Aku masih ingin melanjutkan kuliah..aku masih ingin bekerja..".
Arrrggghhhh!!!Aku membanting pensil yang ada digenggamanku. Mengembalikan aku pada dunia nyata. Menarik nafas kembali. "ya..inilah konsekuensinya." Kata ku. Rasanya sempit sekali rongga-rongga dada ini . Jantungku berdegup kencang. Sekarang.. Saat ini.. Dia tak lagi menjadi bagian hidupku. Dia sudah meenjadi matahari buat yang lain. Sementara aku disini. Tersisih. Ada di dunia lain tak terjamah dunianya. Bahkan sinarnya pun tak mampu menyinari bagian duniaku saat ini. Singkatnya. Aku dengan dunianya, dan Dia.. Tangan ku masih meng klik bebberapa foto yang ada. "hfff dengan dunia kecilnya bersama perempuan itu dan buah cintanya." batinku.
Aku kembali mendesah melihat foto yang terpajang di layarku. Fotonya bersama perempuan itu. Yang kini menjadi hidupnya. Ya istrinya. Dia sudah memilih yang lain untuk hidupnya. Bukan dengan ku. Andai.. Aku kembali masuk dalam lamunan ku.
"Sampai kapanpun kamu akan ada dihati aku Ra. Kamu pernah menjadi tawaku."Katamu. Perpisahan itu. Aku hanya mampu menatapnya. Tak mampu menjawab apapun setiap katanya. Bahkan tentang perasaanku. TAk pernah terlontar keluar dari bibirku. Meskipun rasanya sudah sampai tumpah. Aku mencintainya. Sangat mencintai lelaki yang duduk dihadapanku. "maaf. Aku memilih dia. Karena aku tak bisa menunggu." Kata mu saat itu. Saat terakhir kita bertemu. Aku hanya mampu melihatmu berpaling dan pergi menjauh meninggalkan aku. Rasanya saat itu aku ingin berlutut. Ingin rasanya menahan langkahmu agar tak lagi pergi meninggalkan aku. Apalagi untuk yang lain. Tahukah kamu. Saat itu aku hanya meneteskan air mata melihatmu pergi. Berlalu bagai debu. Dan kita tak lagi bertemu. saat terakhir itu. saat Kamu merengkuh kepalaku dan menyandarkannya dipundakmu.
-----------------
"happy birthday…" beberapa orang menyeruak masuk dalam kamarku. aku langsung menutup Laptopku. berpaling dan menyambut mereka. "happy birthday sweety," seseorang mengecup pipiku. "thanks honey..thanks all" kataku. membalas kecupan pipi Ben. Ben.. Seseorang yang kini mengisi hariku dan hatiku. Aku mengenal Ben ketika melanjutkan study ku di negeri seberang. negeri Kanguru. Namun semua tak akan pernah sama dengan Dia. Cinta Pertamaku.
"make a wish.." teriak yang lain.
"Ya Tuhan. Bahagiakan Dia dengan dunianya. Terlalu banyak yang aku korbankan untuk semua cita-cita ini. Termasuk cintaku. Maka Tuhan. Wujudkanlah semua mimpiku dan citaku ini. Aku tahu semua pilihan pasti ada 'hadiahnya'. Dan aku tahu kau telah menyiapkan hadiah terbaik buat ku.Terima KAsih untuk mereka yang kau hadirkan dalam hidupku saat ini" .
Hufff. Lilin-lilin itu padam
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
abdulhamid845